Mengapa Harus Membaca Buku?

Esai Voleta Marshaniswah

“Jika ingin menghancurkan sebuah bangsa dan peradaban, hancurkan buku bukunya. Maka, pastilah bangsa itu akan musnah.”

Milan Kundera.

Jika kutipan dari novelis Republik Ceko tersebut dipahami lebih lanjut maka akan sampai pada titik dimana membaca buku adalah salah satu hal yang harus dilakukan untuk mengembangkan peradaban. Hal ini dibuktikan dengan tokoh-tokoh yang membawa pengaruh besar bagi dunia adalah orang-orang yang pandai. Tentu salah satu cara menjadi pandai adalah dengan membaca buku. Dengan membaca buku, manusia akan menemukan pengetahuan baru yang mungkin mengubah pemikiran mereka tentang memandang dunia. Sebagai contoh, yang tadinya seseorang tidak tahu cara membuat adonan kue, menjadi tahu karena membaca buku resep memasak.

Namun, apakah sekarang, minat membaca buku masih sama dengan minat membaca pada zaman dulu? Tidak, tentu berbeda. Minat baca pada zaman ini, pada bangsa ini rendah. Salah satu alasanya adalah karena sekarang sudah ada yang bernama smartphone (gadget). Mayoritas lebih berminat melihat konten di gadget mereka daripada membaca buku. Selain karena gadget, mereka tidak memiliki motivasi untuk membaca buku. Mereka mungkin belum menemukan reason why mereka harus membaca buku.

Yang lebih menyedihkan adalah, walaupun mereka sudah memegang gadget yang notabenya smart, tapi mereka tidak lalu membaca lewat smartphone. Jadi, selain minat membaca buku yang rendah mereka juga malas membaca keterangan pada suatu konten. Sebagai contoh, ini adalah pengalaman pribadi, ada sebuah akun instagram yang membagikan sebuah trailer drama korea terbaru. Di video tersebut hanya menampilkan potongan episode yang membuat penasaran penonton, namun pada keterangan konten atau yang biasa disebut caption, tertera judul drama dan jadwal tayangnya. Namun, pada kolom komen masih banyak yang bertanya mengenai apa judul drama tersebut. Padahal dengan jelas, terpampang judul dan jadwal tayang drama tersebut di caption.

Saya mulai menyukai membaca buku dari kelas satu SMP, waktu itu buku yang saya pinjam di perpustakaan sekolah adalah Hafalan Salat Delisa yang ditulis oleh Tere Liye. Novel lain yang saya baca dari penulis Tere Liye adalah buku Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah. Salah satu dari potongan buku yang masih saya ingat adalah potongan dimana Borno dan Andi sedang berbincang mengenai hubungan Borno dengan seorang perempuan. Saat itu tidak ada cerita dari Borno untuk dibagikan pada Andi mengenai hubungan Borno. Andi berkata “Ya sudahlah. Kalau begitu, aku pamit pulang” lalu dari sudut pandang Borno ada kalimat seperti ini “Tidak ada cerita, maka tidak penting lagi bertemu denganku. Seperti itu disebut kawan sejati?” setelah membaca kalimat itu saya teringat pada sahabat yang selalu bersama saya sejak kecil, ia tetap bermain dengan saya walau tidak ada cerita penting yang dibagi.

Selain novel, saya juga kadang membaca buku pengembangan diri atau yang sering disebut self-improvement. Saya membaca buku berjudul “The Alpha Girl’s Guide” yang ditulis oleh Henry Manampiring, walaupun buku ini ditulis oleh seorang laki laki, nyatanya isinya bagus. Saya suka penyampaian materinya. Ada tiga hal yang ingin saya jabarkan mengenai potongan isi buku tersebut. Yang pertama adalah bagaimana terlihat menarik, saya ulangi, bagaimana terlihat menarik, ya, bukan terlihat cantik. Menurut buku tersebut ada tiga yaitu dengan makan makanan yang baik, bergerak yang baik, dan yang ketiga yaitu tidur yang baik.

Selanjutnya, ada tulisan di buku ini yang bertuliskan, mengapa perempuan harus berpendidikan? Ada yang mengatakan bahwa, kenapa perempuan harus berpendidikan tinggi jika nanti akhirnya di dapur? Kerena dalam hidup ini tidak ada yang pasti, maksudnya mungkini saja suatu saat setelah menikah, sang suami menceraikannya atau bahkan ditinggal mati. Jika perempuan berpendidikan dia bisa mandiri dan tidak perlu memohon pada suaminya untuk mengasihani dirinya. Terakhir adalah bahwa untuk menjadi Alpha Girl’s harus mementingkan pertemanan yang positif. Di dalam pertemanan yang positif sebaiknya menghindari membicarakan orang lain atau yang biasa disebut menggosip. Karena tukang gosip tidak akan mendapatkan kepercayaan penuh dari orang lain.

Mungkin tulisan tulisan di atas cukup untuk menjelaskan dan memantapkan bahwa membaca itu penting, terlebih membaca buku. Sebenarnya masih banyak manfaat yang saya dapat dari membaca buku, namun saya rasa cukup.

Semoga kawan pembaca tertarik untuk membaca buku yang saya sebutkan secuil isinya. Saya sudah merasakan manfaat dari membaca buku, selain yang sudah saya sebutkan, ada manfaat lain dari membaca buku, yaitu membuat kita cepat mengantuk, apalagi jika yang dibaca bukan novel, tapi buku pelajaran, ini menurut pengalaman pribadi.

Bagi yang muslim pasti mengetahui surat pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ adalah surat Al ‘Alaq ayat 1-5, yang ayat pertamanya berarti “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan” Bisa dipahami bahwa Allah memerintahkan manusia untuk membaca, bukankan seharusnya manusia menaati perintah Tuhannya? Namun disini berarti bukan hanya membaca buku tapi juga membaca kitab. Di dalam Al Quran banyak sekali pelajaran yang bisa kita ambil, jika kita membacanya. Maka dari itu, membacalah.

***

Voleta Marshaniswah (17 tahun) merupakan siswa kelas XI IPS 1 MAN 1 Kulon Progo Yogyakarta. Ia tinggal di Nanggulan, Kulon Progo. Penulis dapat ditemui lewat Instagram dengan nama: @voleta.marsha