Menghafal Angan-Angan Husna

Cerita Sirri Malail Khusna

Sayup terdengar bel menandakan salat Tahajud. Sambil mengumpulkan nyawa, aku bangun dan mengambil air wudu. Selepas salat Tahajud, aku mengulang kembali hafalan yang tinggal 1 juz lagi khatam. Jika itu selesai, aku akan menempuh khataman bil ghoib.

Bahagia rasanya, aku membayangkan memakai selempang hafizah yang aku dambakan selama 10 tahun menjadi santri.  Lima tahun terakhir, aku berjuang untuk  menghafal dan aku tak ingin semua itu  sia-sia.

***

Aku adalah bagian dari santri Pondok Pesantren Alquran Wates atau sering disingkat PESAWAT. Pondok pesantren yang berbasis  Al-Qur’an dan kitab kuning.

Dulu, aku sempat pesimis dengan hafalanku, tetapi dengan tekad setinggi langit, aku terus menghafal.  Aku ingin sekali memakaikan mahkota kepada orang tuaku kelak di akhirat. 

Awal mula mondok di sini sebenarnya keinginan orang tuaku. Mereka berharap agar aku bisa lebih mengenal agama dan menjadi penghafal Al-Qur’an. Aku ingat ketika awal menghafal dulu rasanya sangat berat apalagi harus menyeimbangkan antara waktu sekolah dan kegiatan pondok. 

***

Waktu begitu cepat berputar, kini aku genap berusia 23 tahun. Kedua orang tuaku mendesakku untuk memiliki pasangan hidup.

“Ndhuk, sudah waktunya kamu menikah. Siapa yang sudah kamu pilih untuk jadi suamimu, Ndhuk?” tanya Ibu.

“Maaf Pak, Bu, Husna masih belum memikirkan hal itu. Husna  masih fokus untuk belajar ngaji dan hafalan satu juz lagi. Husna juga masih ingin mengabdi di pondok,” jawabku.

“Untuk menikah, Husna masih belum ada pikiran ke situ, Bu,” lanjutku berbicara kepada Ibu. 

***

Hari Ahad, waktu bebas bagi para santri dari padatnya kegiatan. Aku memanfaatkan waktu untuk membantu keluarga ndalem yang sedang ada hajatan. Ketika aku menyapu teras ndalem, kujumpai kang santri bernama Rochman. Dia sedang membuang sampah.

Sebenarnya, aku tidak begitu mengenal dia karena aku tak acuh pada yang namanya laki-laki. Dia memandangiku dari kejauhan. Aku merasa risi dengan hal itu. Aku bergegas menyelesaikan pekerjaan dengan cepat lalu masuk kembali ke ndalem.

Tiga hari setelah pertemuan dengan Kang Rochman, aku mendapat sepucuk surat dari abdi ndalem putri,  Zizah. Sempat kubertanya padanya siapakah gerangan yang mengirim, tetapi ia tidak mau memberitahu. Alasannya,  dia juga hanya mendapat titipan dari seorang abdi ndalem putra.

Sebelumnya aku mendapat pesan darinya bahwa harus menyimpan baik-baik surat tersebut. Aku hanya menyimpan dan masih enggan untuk membaca surat itu. Sampai beberapa minggu kemudian Zizah menanyakan perihal surat itu kepadaku.

Dengan malas, aku pun diam-diam menyelinap ke kamar mandi untuk membaca surat tersebut. Aku beralasan akan mandi lebih awal karena sore itu aku menjadi badal Bu Nyai untuk ngaji Safinatunnajah.

***

Sudah kuduga kenapa Kang Rochman memandangku begitu. Dia mengungkapkan rasa suka itu melalui goresan tangannya yang rapi.

“Husna, gimana to, kamu kok belum membalas surat Kang Rochman?” tanya Zizah saat kami mencuci piring di ndalem.  Aku memang masih menyimpan surat dari Kang Rochman tanpa membalasnya. Aku diam saja dan Zizah terus memaksa.

“Aku belum tergerak untuk membalasnya,” jawabku singkat.

“Ya ampun, kenapa to, Husna!!!”

“Aku rasa belum waktunya untuk membalas surat itu.”

Rasanya Zizah akan terus penasaran dengan jawabanku. Tiba-tiba datang abdi ndalem mendekati aku dan Zizah.

“Mbak Husna, sampeyan ditimbali Ibu, diminta ke ndalem,” kata abdi ndalem itu tergesa-gesa.

Aku sempat bingung dan melihat ke arah Zizah yang menggelengkan kepala. Zizah juga tidak tahu kenapa aku dipanggil Ibu Nyai.

Aku bergegas ke ruangan di mana Ibu Nyai duduk sambil nderes hafalan. Sementara di sebelah, Abah sedang berbincang dengan seseorang. Aku kenal dia. Tidak salah, itu Kang Rochman. Aku berdiri malu-malu, sampai Ibu Nyai memintaku duduk di kursi.

“Reneo, Ndhuk, tak kandhani,” tutur  Bu Nyai dengan suara lembut, tetapi selalu membuat hatiku seperti es di dalam kulkas.

“Nggih, Bu,” timpalku malu-malu. Aku merasa takut akan dhawuh Bu Nyai daripada menyadari jika Kang Rochman ada di samping Abah dengan wajah tegang.

“Ngene Ndhuk,  Kang Rochman arep ngelamar awakmu. Kamu mau apa tidak menerima lamaran Kang Rochman,” ucap Bu Nyai yang tentu saja membuatku kaget bukan main.

Sejenak aku melihat wajah Kang Rochman. Tidak. Aku tidak bisa menjawab pertanyaan Bu Nyai. Tidak mungkin aku mempunyai keputusan secepat itu. Meski aku tahu, Kang Rochman itu orang kepercayaan Abah.

Zizah sering cerita tentang Kang Rochman yang sangat tawaduk pada Abah. Dia juga sudah berkali-kali khatam Alfiyah. Seperti aku, kata Zizah, dia juga sering membadali Abah.

Aku tidak bisa menjawab pertanyaan Ibu Nyai. Aku juga masih kaget atas lamaran Kang Rochman yang mendadak dan langsung meminta pada Bu Nyai dan juga Abah. Aku harus mengakui dia sungguh laki-laki pemberani.

“Iyo, Ndhuk, piye arep ora karo Kang Rochman?” Bu Nyai mengulangi pertanyaan itu.

“Nyuwun pangapunten, Ibu, mangkih riyin. Saya masih butuh waktu untuk menentukan,” jawabku dengan penuh rasa hormat.

Di pondok ini, tidak ada satu pun santri yang berani membantah apa pun permintaan Bu Nyai. Itu adalah pantangan, tetapi aku tidak bisa dipaksa.

“Ya, kalau begitu, besok kamu ke sini lagi. Cukup ta,  sak wengi untuk berpikir?”

“Nggih, Bu,” jawabku sambil menunduk ke lantai. Sumpah aku merasa takut seandainya Ibu Nyai marah karena sikapku. Aku menerima saran Ibu Nyai untuk memperbanyak doa dan istiharah.

Dalam istiharah, aku berdoa. Rasanya berat aku meminta jawaban kepada Allah. Dalam salat itu, aku terbayang para santri putri yang masih membutuhkan aku di samping mereka.

Mereka yang masih labil dan sering menangis di pelukanku karena rindu orang tua. Ada juga yang nangis karena kang santri idolanya ternyata mencintai teman sendiri. Aku belum siap meninggalkan pesantren ini. Aku juga masih ragu dengan perasaanku sendiri karena aku sama sekali belum pernah berbicara dengan Kang Rochman.

***

Keesokan harinya seperti yang Bu Nyai katakan,  aku kembali untuk memberitahukan bahwa aku menerima atau menolak lamaran Kang  Rochman.

“Piye, Ndhuk gelem ora?” tanya Bu Nyai kepadaku.

Aku melihat Kang Rochman yang penuh harapan menghela napas sejenak. Ia seperti sudah siap untuk kesediaanku. Aku menyiapkan bismillah puluhan kali agar aku kuat memberikan jawaban yang sudah kuyakini.

“Nyuwun sewu, Bu Nyai, saya masih ingin tinggal di pondok. Masih ingin belajar ngaji. Saya masih ingin menemani adik-adik santri di sini dan memberikan semangat untuk mereka,” jawabku dengan lancar. Aku merasa sangat lega. Aku berani mengatakan yang kuinginkan.

“Saya ingin memakaikan mahkota kepada ibu saya, di hari wisuda khataman saya kelak,” jawabku dengan mata berkaca-kaca.

Kang Rochman menunduk dengan wajah memerah.

“Maafkan saya, Kang.”

Ibu Nyai kelihatan sedih. Hal itu membuat aku merasa takut. Aku tahu, Ibu pasti marah. Abah yang memberikan semangat untukku.

“Gapailah cita-citamu, Ndhuk. Apalagi kamu ingin memberikan kemuliaan untuk kedua orang tuamu,” ujar Abah menyejukkan hati.

Begitulah Abah. Beliau itu seperti sumber mata air untuk para santrinya. Lututku terasa lemas, saat Ibu Nyai masuk ke kamar tanpa pamit atau melihat ke arahku. Sejak hari itu pula, Ibu tidak pernah memintaku sowan.

***

Di pelataran makam keluarga pondok aku duduk menghadap meja kecil. Di hadapanku Al-Qur’an terbuka. Sesekali aku harus melihat ke arah baris-baris ayatnya.

Hari demi hari aku lewati dengan menghafal Al-Qur’an ketika aku tidak mengajar kitab di kelas awal. Aku sering juga diminta Abah mengisi di acara Yasinan ibu-ibu sebelah pondok. Abah memintaku menggantikan beliau ceramah.

Kadang-kadang, Abah juga meminta Kang Rochman untuk menemani aku. Meski kami pergi bersama, tetapi Kang Rochman tidak pernah mengajakku bicara. Aku tidak peduli juga, mungkin Kang Rochman membenciku karena aku menolak lamarannya.

***

Aku menghadap Bu Nyai yang sedang mengunjungi makam putrinya, tempat di mana aku sering duduk untuk hafalan.

“Ibu, dalem nyuwun pangapunten.” Aku mencium punggung tangan Bu Nyai.

Ya, aku tahu kenapa Bu Nyai ingin aku segera menikah. Ibu teringat putrinya tiada sesaat setelah dilahirkan karena kelainan jantung. Almarhumah pasti seumuran denganku.

“Sudahlah. Sekarang selesaikan setoran hafalanmu,” jawab beliau.

Bu Nyai tidak memberikan nasihat apa pun kepadaku. Ia justru memintaku setoran hafalan, sebelum seminggu lagi pengumuman peserta wisuda khotmil qur’an bil hifdzi.

***

Hari yang ditunggu pun tiba setelah aku turun dari panggung langsung di arak ke masjid pondok bersama santri-santri yang selesai wisuda. Hari ini aku mewisuda dua puluh santri yang telah menghafal sepuluh juz.

Aku melihat Kang Rochman memakai jas hitam dan peci hitam. Ia tersenyum padaku. Di sana juga sudah ada Kang Rochman, Pak Yai, orang tuaku, dan beberapa santri putra dan putri serta beberapa saksi lainnya.

Qobiltu nikahahawa tajwijaha alal mahril madzkur wa radhiitu bihi, wallahu waliyu taufiq.

“Alhamdulillah,” ucapku dengan berderai air mata di pipi.

Impianku sebagai hafizah pun tercapai dan dengan hadiah pendamping hidup seorang hafiz saleh akhlaknya sebuah kebahagiaan yang sungguh tak terkira. Kang Rochman tersenyum kepadaku.

“Husna!   Husna!!!” rasanya aku benci ada suara berteriak-teriak di telinga.  Kenapa ada saja yang menggangguku yang sedang bahagia. Zizah memukul pundakku dengan keras.

Aku terkejut. Kenapa aku ada di pelataran makam keluarga Abah? Untuk beberapa saat aku kehilangan kesadaran tentang waktu dan peristiwa.

“Bangun!!! Ngapain kamu jam sebelas malam tidur di sini?!!” tegur penjaga makam.  Aku tertawa nyengir. Ya Allah, terasa nyata pernikahan dalam mimpi itu. 

“Kamu ditunggu setor hafalan sama Bu Nyai! Sekarang!!!”

Di gerbang makam, kumelihat Kang Rochman berdiri diam seperti biasanya. Aku buru-buru menghadap Ibu Nyai, tanpa menyapa Kang Rochman, tetapi dalam pikiranku tiba-tiba terdengar suara Kang Rochman.

“Husna, kok sampeyan ndhak mau membalas suratku?”

***

Sirri Malail Khusna (17 tahun) merupakan santri Pondok Pesantren Al Qur’an Wates, Yogyakarta dan berasal dari Sikepan Mendut, Mungkid, Magelang. Penulis dapat ditemui lewat Facebook dengan nama: sirri mala.