Pentingnya Belajar di Pesantren

Cerita F Najwa Al Wafa

Saya adalah anak yang sangat nakal dan manja. Kenapa sangat manja? Karena saya berada dari keluarga yang mampu. Dulu, jika saya meminta sesuatu ke orang tua, apapun itu, mereka akan selalu mengabulkannya. Saat menginjak masa remaja, tepatnya saat masuk kelas 5, sikap saya berubah drastis. Saya yang dulunya anak baik, kini berubah menjadi anak yang sangat nakal. Saya suka main ke luar rumah tanpa izin, suka pulang tengah malam, suka berbohong, suka membolos dari sekolah, suka bolos mengaji, suka mencuri uang ortu dan lain sebagainya.
Kenakalan saya berawal dari rasa penasaran saya setelah saya melihat seorang teman. Saya akhirnya meniru yang teman saya itu lakukan, yaitu merokok. Saya membeli rokok di toko terdekat. Waktu itu rumah saya sepi banget karena orang tua pergi ke rumah saudara. Saat itu juga saya mencoba rokok tersebut. Hari itu juga saya menjadi suka merokok.

Di lain waktu, orang tua saya dipanggil ke sekolah. Waktu itu saya bolos dan bermain play station (PS) di rumah teman. Tiba-tiba saya mendapat telepon dari guru Bimbingan Konseling (BK). Saya dipanggil ke sekolah. Sesampainya saya di sekolah, saya terkejut mendapati orang tua saya bersama kepala sekolah di kantor beliau.
Ternyata kenakalan saya telah diketahui oleh orang tua. Mereka diberi tahu oleh kepala sekolah dalam rapat singkat, sesaat sebelum saya datang. Saya dihukum dengan diskors selama dua minggu. Dengan perasaan sedih saya pulang dengan orang tua. Sesampainya di rumah, saya dimarahi habis-habisan oleh orang tua. Saya tidak boleh main keluar rumah selama tiga bulan. Handphone saya disita selama berminggu-minggu. Sayadihukum membersihkan rumah selama berhari-hari. Dengan sedih hati, saya menerima hukuman tersebut. Akhirnya setelah sepuluh bulan berlalu, saya lulus sekolah. Saya pikir saya dipondokkan, dan benar. Belakangan saya sadar, kebiasaan di pesantren, mulai dari belajar sholat, membaca al-Qur’an dan lain sebagainya akhirnya sangat mengubah hidup saya. Saya menjadi pribadi yang lebih baik dan, alhamdulillah, orang tua saya bangga kepada saya karena sudah berubah.

Pesan moral: jangan pernah bersikap nakal ya, teman-teman. Jika kalian terlanjur berbuat nakal, ubahlah sikap kalian. Banggakan orang tua kalian. Insya Allah kalian akan berubah menjadi lebih baik.

***
(ed: Du)

F Najwa Al Wafa adalah santri di Pesantren al-Iklas. Penulis bisa diajak mengobrol melalui najwasurya@gmail.com.