Peran Pesantren Untuk Pembangunan Masyarakat

Esai Siti Nur Khanifah

Indonesia merupakan negara yang memiliki jumlah pesantren terbanyak dari sekian negara yang ada di dunia. Pesantren sudah dikenal masyarakat Indonesia sejak lama, ini membuktikan bahwasannya mereka peduli dengan pendidikan. Jumlah pondok pesantren hingga kini terus bertambah, hampir di setiap pedesaan terdapat bangunan pesantren, karena memang lembaga pendidikan tertua ini dilahirkan dari masyarakat pedesaan oleh para kyai dan ‘ulama. Wajar saja bila sebagian santri berasal dari kalangan mayoritas pedesaan.

Pesantren tidak hanya berperan sebagai lembaga pendidikan dan dakwah saja, akan tetapi pesantren berperan penting untuk kemajuan negara yaitu ikut serta dalam pembangunan masyarakat. Pendidikan pesantren dikategorikan dalam pendidikan yang membebaskan. Mengapa? Karena para santri dilatih dan diasah kemampuannya untuk mandiri.

Santri tidak hanya menjadi objek, akan tetapi juga berperan menjadi subjek, dimana para ustadz atau pengajar hanya mendampingi kegiatan santri, sedangkan para santri berperan aktif dalam proses pembelajaran, sehingga tugas pendidikan pesantren adalah memanusiakan manusia. Dimana santri diberi keleluasaan untuk aktif berpendapat dan bertindak, tidak dijadikan seperti robot yang berperan sebagai objek, hanya mengikuti aturan seolah-olah pendidikan adalah mengisi gelas yang kosong. Jika begitu, pendidikan hanyalah mencetak manusia untuk menjadi pelaku industri.

Pesantren merupakan sebuah wadah pendidikan yang sangat tepat jika diterapkan di zaman modern saat ini, karena tidak mengekang dan sederhana. Salah satu ciri kemajuan dunia pesantren ialah, jika di pesantren dulu hanya menekuni ilmu keagamaan saja, sekarang sudah dilengkapi dengan fasilitas sekolahan umum baik SD, SMP ataupun SMA, sehingga wajar banyak tokoh-tokoh cerdas berkualitas berasal dari pendidikan di pesantren.

Para santri juga diajarkan dalam bidang pertanian, ekonomi, bahkan dilatih untuk menjadi masyarakat yang memiliki pemikiran logis dan berakhlaq.  Kunci suatu negara sejahtera diukur dari tingkat kesejahteraan masyarakat, maka dengan itu pesantren bertujuan mengajar, mendidik dan menciptakan kader-kader berkualitas.

Tidak semua lembaga pendidikan memiliki kesamaan seperti halnya pendidikan pesantren. Pembelajarannya memang berorientasi pada keagamaan tetapi pesantren tidak meninggalkan sains (pengetahuan tekhnologi). Bisa dikatakan mengejar yang haqiqat tidak meninggalkan yang syari’at.

Sebenarnya apa yang membuat anak zaman sekarang gengsi untuk mondok atau menjadi santri? Bukankah ketika kita menjadi seorang santri sama halnya kita tabarukan kepada para kyai ‘alim ulama karena kita mengikuti pendidikan yang didirikan oleh mereka. Anak zaman sekarang kebanyakan memiliki gengsi yang tinggi. Mereka tidak mau penampilannya terlihat sederhana. Mereka tidak mau dinilai rendahan oleh kawan-kawannya.

Dalam pesantren memang tidak mengenal seragam. Ketertiban tidak dinilai dari kesamaan fashion. Pakaiannya di wajibkan bebas, karena hal ini sudah menjadi ciri khas tersendiri yang berarti pendidikan yang baik tidak diukur dari segi penampilan dan kerapian. 

Di dunia yang serba praktis ini, tidak semuanya juga harus dengan cara instan. Terlebih pendidikan, karena pendidikan merupakan sebuah proses, dimana mengantarkan seseorang untuk menemukan diri sejati orang tersebut. Dalam bahasa lainnya, mencari jiwa diri seseorang. Maksudnya mencari arti hidup sesungguhnya yang mana seseorang hidup untuk apa, dan apa yang harus dilakukannya.

Semua itu membutuhkan proses yang sangat lama, maka dengan itu hanya pendidikan dunia pesantren lah yang sesuai jika diterapkan di zaman ini. Bagaimanapun juga, pesantren sudah terbukti berperan di negara ini. Para tokoh Kyai, ‘alim ‘ulama hingga para tokoh politisi, banyak yang dilahirkan dari hasil pendidikan di pesantren.

Kesimpulannya sudah jelas, bahwa pesantren dari dulu hingga sekarang menjadi lembaga penting dalam kemajuan negara. Pesantren menciptakan dan melahirkan masyarakat yang bekualitas, cerdas, dan bermoral.


***

Siti Nur Khanifah (18 tahun) merupakan santri Pondok Pesantren PPs. AP Fatanugraha. Penulis yang beralamat di PKalibeber, Wonosobo dan sekolah di Islamic Homeschooling Fatanugraha. Penulis dapat ditemui lewat Facebook dengan nama: Siti Nur Khanifah atau akun instagram dengan nama: @h_anyfah