Puisi-Puisi Dista Anggia Saputra: Kiaiku – Sang Lentera

Puisi Dista Anggia Saputra (13 tahun)

Kiaiku

Pandanganmu tundukkan jiwa yang hancur
Ucapanmu sejukkan hati yang tandus
Tingkahmu panutan diri yang hina
Langkahmu luruskan langkah yang berliku
Pewaris ajaran sang makhluk sempurna
Penerus pejuang agama ilahi
Penegak syiar Islam ahlussunah wal jama’ah
Menjunjung tinggi nilai kebenaran
Wahai kiaiku …
Tiada kata lelah di dalam dirimu
Terus berjuang membela sang kebenaran
Meski kebatilan selalu menyertai langkahmu
Tanpa pamrih kau tuntun kami
Melewati jalan yang sesat tanpa arah
Menuju jalan lurus yang diridai oleh-Nya
Wahai kiaiku …
Kuucapkan terima kasih padamu kiaiku …

***

Kiaiku Pahlawanku

Tak tampak raut wajah yang lelah
Tak tampak raga yang seharusnya renta
Tak tampak wajah yang seharusnya marah
Pun semuanya terlihat biasa-biasa saja
Seolah tak ada tugas berat yang dipikul

Oh Kiai …
Sungguh engkau pewaris Nabi
Tak pernah kau ucap lelah hati
Tuk bimbing kami si para santri

Kerap kali kami tak mengaji
Malas mematung dalam diri
Bersemayam di bilik kamar
Atau tidur hingga hilang sadar

Oh Kiai …
Mengapa kau tidak lelah menghadapi kami yang susah payah?
Mengapa kau tidak marah melihat kami yang santai-santai saja?
Sungguh pertanyaan yang selalu menyeruak masuk dan bergentayangan dalam benakku

Kini, aku tahu jawaban atas pertanyaan si mengapa
Karena kau ikhlas bimbing kami
Tak mengharap balas budi
Tak merasa jengkel hati

Lelah tak jadi masalah
Sebab dijalankan karena Lillah
Marah tak perlu dipelihara
Sebab bukan ajaran syara’

Oh Kiai …
Kuharap sebongkah berkahmu
Berselancar dalam sanubariku
Membuka pintu-pintu ilmu
Yang dicari para perindu

Oh Kiai …
Engkaulah Pahlawanku

***

Sang Lentera

Kiai!
Akulah orang jahil dalam ilmu
Betapa hal itu tiada lebih bodoh dari kebodohanku

Dari kehinaanku yang layak
Dengan kemulyaanmu yang marak
dengan sifat-sifatmu yang lembut
dengan halusnya welas asihmu
engkau pun tahu aku lemah, aku bodoh
tiadalah engkau menolakku
dengan sifat lembut dan welasmu

Kiai!
Bila ada padaku suatu kebaikan
itu semua berkat kasih dan bimbinganmu
engkau berhak menuntutku

Bila ada padaku kejahatan
itu karena kelalaianku
engkau berhak menuntutku

Kiai!
Betapa diriku mendapat elus kewelasanmu
Padahal aku bodoh dalam kejahilanku
Besar sungguh kasih sayangmu
Padahal begitu buruk perilakuku

Kiai!
Besar sungguh cintamu
Ada apa gerangan yang menutup antara aku denganmu?

Kiai!
Engkau suruh aku perhatikan alam
Pada peliputan selubung dalam

Kiai!
Aku malu …
Di depanmu aku taat
Tapi di belakangmu aku khianat
Di hadapanmu aku mengangguk patuh
Tapi di belakangmu aku menggelang angkuh

Kiai!
Ketika dosa telah menutupi pandanganku
Nasihatmu mengingatkanku
Tatkala putus asa menggerogotiku
Aku menemukan teguranmu

Aku hanya insan rendahan
Bimbinganmu membukakan harapan

Kiai!
Engkau bagai lentera di malam kelam
Sebagaimana ketika aku menjadi santrimu
Menjadikan terpeliharanya hatiku
Dari gangguan genggaman kelam
Lalu terangkat keinginan diriku
Untuk bersandar padamu

Kiai!
Sebenarnya hati ini letih
Sungguh raga ini lelah
Kaki ini sudah tak tahan

Kiai!
Jangan tinggalkan aku dalam kekecewaan
Jangan engkau tolak aku bermohon
Jangan jauhi aku dalam

ketertinggalan

Kiai!
Ajari aku ilmu pengetahuan
yang berada dalam persembunyian

Dengan besarnya kasihmu
aku tetap dalam pengajaranmu

Kiai!
Keluarkanlah aku dari kehinaan
Bersihkan aku dari keraguan
Sucikan aku dari syirik
Sebelum aku masuk ke liang kubur
Tolong dan bantulah aku

Kiai!
Engkaulah penerbit cahaya di hatiku
Engkaulah penggembira hatiku
ketika seisi alam menjemukanku
Engkaulah pengantar hidayah padaku
Sehingga kebenaran itu memancar dari hatiku

Kiai!
Ulurkan sebogkah barokahmu
Ikatlah hati ini dengan setetes kasih sayangmu
Sungguh hati ini merinduimu

Kiai!
Engkaulah sang lentera
Cahayamu menembus jiwa

Engkaulah sang lentera
Yang menerangi malam gulita

Engkaulah sang lentera
Yang selalu bercahaya

Kiai!
Engkaulah lenteraku
Engkaulah pelitaku
Engkaulah pembinaku


Maka ridailah diriku …!


***

Dista Anggia Saputra (13 tahun) merupakan santri Pondok Pesantren Riyadlotul Mubtadi ien. Ia merupakan siswa kelas 6 MI Al-Ishlah dan berasal dari Dusun Tiudan, Gondang, Tulungagung, Jawa Timur. Penulis dapat dihubungi di Instagram dengan nama: dxs.public_.