Senja di Langit Pesantren

Cerita Jannah Nur Eka Putri

“Sing pokok santri iku kudu faham, ora kudu pinter.”

‘Yang wajib santri itu harus paham, tidak harus pintar.’

K.H. Achmad Su’adi (pengasuh Pondok Pesantren Al-Qur’an Wates)

“Nek sampeyan fokus mesti iso, Kak. Semangat, yo. Tak dongakne mugo-mugo lancar le apalan, sehat awake, luas rizkine, cerdas otakke, dadi cah mulyo donyo akherat. Besuk oleh jodho jik sholeh, ganteng, uripe cukup, njlemo, tur setia.”

‘Kalau kamu fokus, pasti bisa, Kak. Semangat, ya. Saya doakan semoga lancar menghafalnya, sehat tubuhnya, luas rezekinya, cerdas akalnya, jadi orang mulia di dunia dan akhirat. Nanti dapat jodoh yang saleh, ganteng, kehidupannya cukup, mapan, dan setia.’

Teringat kala itu, di mana pesan dari orang tuaku diucapkan pada hari-hari awal aku masuk pesantren. Tak mudah memang beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Aku pun terus berusaha untuk itu: harus berjuang sekuat mungkin saat ini, jika tak mau susah di masa depan.

Di depan kamar pesantren kini kuungkapkan semuanya, menunggu senja yang tak lama lagi menghampiri, melihat kesibukan para santri yang tak berubah setiap harinya, ditemani mushaf Al-Qur’an yang setiap saat kujadikan penyemangatku di pondok ini.

Di waktu senja seperti saat ini, aku teringat seorang temanku yang dulunya sama-sama berjuang di pondok ini untuk menyelesaikan hafalan Al-Qur’an. Namun, takdir berkata lain. Ternyata dia lebih dulu keluar dari pondok pesantren kami tercinta ini bukan karena sudah selesai dengan target hafalan Al-Qur’an-nya, melainkan karena takzimnya kepada orang tua, dengan menerima perjodohan yang sudah direncanakan dua tahun yang lalu.

Flashback on

17:00, depan kamar santri putri Kompleks C.

“Assalamualaikum, Haura.”

“Waalaikummussalam, Asna. Jadi ke sini juga?”

“Iyalah. Kan kita bareng-bareng mulai hafalannya. Jadi sekarang muroja’ah-nya juga barengan. Terus kita target khatamnya besok juga harus bareng, Ra.”

“Masyaallah. Insyaallah, Na. Jika Allah meridai rencana kita. Kita hanya bisa berdoa dan berikhtiar. Setelah itu tawakal sama Allah. Mana yang terbaik buat kita. Insyaallah usaha kita enggak akan sia-sia.”

“Amin,” jawab kami serempak.

Flashback off 

Mau bagaimana lagi? Kita hanya bisa berencana. Allah-lah yang menentukan semuanya.

Aku bahagia ketika semua doa dan keinginanku terwujud. Namun, aku lebih bahagia ketika doa dan keinginanku tidak terwujud. Sebab yang pertama itu hanyalah keinginanku, tetapi yang kedua itu adalah kehendak Allah Swt. Insyaallah semua akan tergantikan dengan yang lebih indah.

Kami juga sama-sama berat saat itu. Namun, akhirnya kami berkeyakinan, inilah yang terbaik, jalan yang harus kami tempuh. Asna sudah ikhlas. Insyaallah akan ada ganti yang lebih membahagiakan untukmu, Asna. Amin.

“… Tapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Q.S. 2 [al-Baqarah]: 216)

*

“Keberhasilanmu dalam mengaji dan menghafal Al-Qur’an itu sebanding dengan banyaknya kamu dalam membaca dan mengulangnya.”

K.H. Maftuh Basthul Birri

Acara Haul dan Khotmil Qur’an Pondok Pesantren An-Nur.

Sore Hari. Depan kamar santri putri Kompleks C.

Terlihat para santri yang sedang sibuk menyiapkan acara untuk malam ini: dari santri putra yang sudah siap dari tadi pagi di halaman pesantren, menyiapkan sound system, panggung, tempat parkir dan lainnya, sampai santri putri yang dari kemarin sudah sibuk di dapur ndalem,  termasuk aku yang insyaallah mengikuti acara khataman bil ghoib nanti malam. Alhamdulillah, tahun ini aku bisa menyelesaikan target hafalanku, walaupun tanpa Asna di sampingku. Aku berharap dia bisa datang ke pesantren walaupun cuma satu malam.

Beberapa menit berlalu, tiba-tiba ada suara yang sangat kurindukan kehadirannya.

“Assalamualaikum, Haura.”

“Waalaikumussalam. Asna … Aku kangen sama kamu,” kataku dengan memeluk sahabat lamaku itu.

“Iya, aku juga kangen banget sama kamu, Ra. Dua tahun kita gak bisa ketemu dan alhamdulillah sekarang aku bisa hadir di acara khataman kamu.”

“Iya. Tahun kemarin, kan, kamu ada halangan dan sekarang alhamdulillah kamu bisa ke sini. Tambah cantik, ya, sekarang kamu, Na. Tambah dewasa aja. Emm. Asna, mana putri kecilmu? Gak dibawa ke sini ta?”

“Alhamdulillah, Ra. Kamu juga semakin cantik banget, makin salihah. Oh, iya. Zahwa aku bawa, kok, tapi di depan sama ayahnya.”

“Ya Allah, seneng aku lihatnya, Na. Sepertinya kamu sudah bahagia, ya, sama suamimu.”

“Alhamdulillah, Ra. Ya semua itu aku jadikan pelajaran. Dulunya aku juga enggak mau dijodohkan, tapi alhamdulillah, sekarang sudah ikhlas menerima semua ini. Aku juga bahagia banget lihat kamu. Akhirnya semua doa dan usahamu tidak sia-sia. Selamat ya, Ra. Kamu berhasil mewujudkan harapanmu. Aku selalu berdoa yang terbaik untukmu, Hauraku sayang,” ucap Asna dengan air mata yang mulai mengalir. Mungkin ia teringat perkataannya dulu. Namun, sayangnya dia tidak bisa menemaniku berjuang sampai akhir.

“Alhamdulillah, terima kasih, Na. Ini semua pastinya juga tidak pernah lepas dari doa dan usahamu juga yang selalu menyemangatiku saat aku mulai lelah. Kamu enggak perlu merasa bersalah. Cukup doa dan bahagiamu saja, itu sudah menjadi tonggakku untuk terus bangkit. Aku enggak akan ngecewain sahabatku ini,” kataku.

“Haura, kamu ingat? Di sini kita bareng-bareng muroja’ah bersama, sima’an bareng, buat hafalan bareng. Semua lika-liku dalam menghafal kita ceritakan di sini. Hingga muroja’ah terakhir aku di pondok sama kamu juga di sini, Ra. Aku enggak nyangka sudah dua tahun ini aku meninggalkan kamu berjuang sendiri. Maaf ya, Ra. Aku belum bisa jadi sahabat yang baik buat kamu. Di saat kamu membutuhkan sandaran dalam menghadapi cobaan dan ujian  selama menghafal, aku malah pergi, meninggalkan kamu sendiri di pondok ini.”

“Astagfirullah, Asna. Kamu tidak seburuk itu. Aku tidak apa-apa saat itu kamu tinggal, walaupun setelah itu aku libur setoran dua hari. Tapi, setelah itu aku bangkit lagi. Seperti apa yang aku bilang, doa dan bahagiamu sudah cukup buatku, Na. Tak ada yang perlu disesali. Semua sudah terjadi. Keinginanku saat itu cukup kamu bahagia dengan kondisimu saat itu. Tidak ada yang lain.”

“Hauraku, masyaallah. Sungguh indah doamu. Terima kasih. Alhamdulillah. Sekarang aku sudah bahagia, Ra. Maaf, ya, jika aku selalu membuatmu susah, tidak pernah membantumu.”

“Asna, Asna, kamu itu sahabatku. Tidak perlu minta maaf ataupun berterima kasih karena aku pun tidak memberikan apa-apa sama kamu. Cukup kita saling melengkapi satu sama lain aja, insyaallah sudah cukup.”

“Okelah, Ra. Semangat, ya, buat kamu nanti di panggung. Jangan nervous. Yakin aja. Kamu pasti bisa.”

“Iyalah. Pasti itu. Aku akan inget pesen dari sahabatku tercinta, Nyonya Akram, hehe.”

“Mantaplah temenku ini.”

“Ojo wedi ora lanyah, nanging wedio yen ora nderes. Pokok gelem nderes, yo, insyaallah lanyah. Yen pesenku, nek nderes ojo cepet-cepetan. Seng tartil, kerana iku perintahi pun Gusti Allah Swt.

‘Jangan takut tidak lancar, tapi takutlah kalau tidak muraja’ah. Asalkan mau muroja’ah, ya, insyaallah lancar. Kalau pesan saya, saat muraja’ah jangan terlalu cepat. Yang tartil, karena itu perintah Allah Swt.’

Nyai Hj. Hannah Zamzani


*

ASNA

Suatu kebanggaan dan keharuan saat aku melihat sahabatku sudah berhasil menyelesaikan hafalan Al-Qur’an-nya. Ya, walaupun aku tidak bisa menemaninya sampai akhir, tetapi aku bahagia ketika melihatnya bahagia saat ini. Haura begitu salihah dan anggun. Tampak cahaya ketenangan di wajahnya. Kelembutan hatinya membuatku belajar bahwa tak semuanya bisa diselesaikan dengan kekerasan. Banyak ilmu yang aku dapat langsung darinya: tentang kesabaran dan keikhlasan ketika kami bersama di pesantren dahulu.

Dulu, waktu yang sangat nyaman bagi kita berdua untuk menghafalkan Al-Qur’an adalah sore hari, di depan kamar, dengan ditemani indahnya senja di ufuk barat. Angin sore sering menenangkan pikiran kami saat hafalan belum juga bisa terselesaikan.

Dan di sinilah kenangan senja itu melekat di kalbu. Banyak hal yang tidak bisa diceritakan lebih detail lagi. Kenanganku bersama Haura sangat memberikan kesan tersendiri di pesantren. Dan akhirnya senja menjadi saksi atas perjuangan kami dalam memperjuangkan Al-Qur’an di pesantren tercinta ini.

“Jika dirimu menyibukkan hidupmu dengan hanya mengejar kuliah, sedangkan hafalanmu masih carut-marut, pasti itu saja yang kamu kejar sampai akhir hayatmu. Tetapi jika kamu menomorsatukan Al-Qur’an, pasti yang lain akan terasa mudah untuk dicapai.”

Nyai Hj. Durroh Nafisah Ali

***

(ed: Du)

Jannah Nur Eka Putri (17) adalah santri asal Maesan, Wahyuharjo, Lendah, Kulonprogo, DIY, yang sedang bersekolah di MAN 2 Kulonprogo.