Sepotong Rindu di Tengah Pandemi

Cerita Rinda Murdiyanti

Malam ini berbeda, biasanya pengajian bandongan berlangsung kurang lebih 45 menit, kini hanya beberapa menit saja. Ada pengumuman yang akan disampaikan Abah (Kiai), yaitu mengenai perpulangan santri.  Adanya pandemi Covid-19 membuat pengajian ditutup lebih awal dengan doa bersama dan segelintir nasihat dari Lurah Pondok.

Waktu penjemputan pun tiba, satu per satu teman-temanku meninggalkan pesantren. Begitu pun denganku, meski berat dan sedikit terpaksa.

***

Waktu berjalan begitu cepat hingga tak terasa sudah memasuki bulan suci Ramadan. Sampai suatu saat, suara alarm berbunyi ketika aku terlelap tidur.

“Kriiing, kriing ….”

“Masih gelap,” geramku sambil mematikan alarm.

“Ayo tangii, tangii, tangii. Tahajjud, tahajjud. Nduk tangi, Nduk. Tahajjud …!!!” (Ayo bangun, bangun. Salat Tahajud. Nak bangun, Nak. Salat Tahajud …!!!)

Suara tegas beliau (Abah Yai) membangunkan para santri di kala matahari masih dalam singgasananya. Perlahan alam mimpiku berhenti, berganti alam nyata yang harus dihadapi dan dijalani. Aku pun bergegas mengambil mukenaku yang terlipat rapi di atas lemari. Mengenakannya lantas segera menyusul Abah menuju musala. Sayup-sayup terdengar lantunan ayat suci di kejauhan, sebuah murojaah hafalan seorang teman.

Seperti biasa, Abah memimpin mujahadah selepas salat Tahajud. Lantunan selawat, tasbih, tahmid, dan asmaul husna. Suaranya menggema di sudut musala. Tiba-tiba seseorang menguncang bahuku, “Nduk, tangi, Nduk. Saur dulu, wes jam setengah papat!” (Nak, bangun, Nak. Sahur dulu, sudah jam setengah empat pagi).

Aku bergegas bangun dan berjalan dengan mata yang masih sayup. Tiba-tiba aku merasa kesakitan karena menabrak sesuatu, “Awww ….” Sambil memegang keningku yang sakit. “Astagfirullah, ini di mana?” ucapku.

“Kalau jalan lihat-lihat, Nduk, jangan sambil merem,” ucap Mamak dengan sedikit tertawa.

“Mamak, malah ketawa, sakit nih kebentur pintu,” ucapku dengan wajah cemberut.

“Ya sudah, keburu imsak,” ucap Mamak sambil menuntunku ke meja makan.

Aku pun tersadar, ternyata tadi hanya mimpi. Aku lupa kalau sekarang di rumah, bukan di pesantren. Padahal aku merasa seakan benar-benar nyata. Aku membayangkan wajah beliau (Abah Yai) yang teduh itu. Suara tegasnya, raut wajahnya yang menenteramkan seakan nyata di hadapanku.

“Aahhh,” aku mengeluh panjang dalam hati. Sudah sebulan lebih aku tak berjumpa beliau secara langsung. Hanya melalui streaming layar kecil telepon genggamku. Layar kaca tidak mampu mengobati berjuta rinduku.

Allah, ya Rabbi. Kapankah pandemi ini segera berlalu? Aku merindunya, sosok panutan dalam hidupku. Aku pun rindu mereka, teman-temanku di pesantren. Rindu canda tawanya, rindu kejailan mereka, rindu berebut kamar mandi, rindu makan bersama, rindu mencari takjil dan berbuka bersama seperti tahun lalu.

Allah, Engkau Mahasegala. Segeralah angkat wabah ini agar kami dapat berkumpul kembali. Mengukir cerita indah di penjara suci, pesantren tercinta kami ini.



***
Nama: Rinda Murdiyanti (21 tahun) merupakan santri Pondok Pesantren Harapan Ar Risalah Pandak Bantul. Penulis dapat ditemui lewat Facebook dengan nama: Rinda Murdiyanti atau Instagram dengan nama: @RindaYanti27_.