Terkurung Lagi?

Cerita Idul Saputra

Madrasah Aliyah Negeri 1 Pasaman merupakan sekolah yang berbasis keislaman. Di sana ada beberapa jurusan, salah satunya Jurusan Keagamaan. Jurusan ini terbagi menjadi keagamaan reguler dan keagamaan unggulan (plus). Perbedaannya adalah keagamaan reguler tidak diasramakan, sedangkan keagamaan unggulan ( plus) diasramakan.

Di asrama kami dibina. Layaknya santri, kami belajar ceramah, azan, mengaji, berbahasa Arab, menghafal Al-Qur’an dan salat berjemaah di masjid dengan peci, sarung, lengkap dengan Al-Qur’an saku. Namun, di samping itu, kami juga belajar pelajaran umum, seperti matematika, kimia, sejarah, biologi, dan yang lain.

***

Sore itu, setelah mandi dan bersih-bersih, aku duduk di teras asrama. Aku berpakaian rapi dengan kemeja kuning kesukaanku. Seperti biasa, teras ramai dihiasi para santri yang membaca dan menghafal Al-Qur’an karena akan ada setoran ayat setiap minggunya. Bagi santri yang tidak dapat menghafalkan akan dihukum piket berturut-turut dan lari jongkok atau dimandikan tengah malam.

“Jon, peci kamu mana? Nanti kena hukum loh kalau tidak pakai peci,” tanya Imran mengejutkanku dari belakang.

“Peciku aman Mran, kan waktu magrib masih lama. Bentar lagi, aku mengambilnya ke kamar,” jawabku tenang.

“Waktu 15 menit lagi,” Qismu Amni (bagian keamanan) sudah menghitung mundur waktu. Pertanda asrama akan ditutup dan yang terlambat keluar akan dikurung dan diberikan hukuman.

“Wee, Jon waktu tinggal 15 menit lagi loh. Ayo sana ambil pecinya ke kamar,” Imran menyesak agar aku segera mengambil peciku.

“Tenanglah, Mran, aman. Lima belas menit itu masih lama. Mungkin hanya butuh 10 detik untuk mengambil peci di kamar,” jawabku songong dan menganggap remeh.

Imran hanya terdiam dan pamit mendahulu kepada diriku untuk ke masjid.
Aku tetap lanjutkan baca Al-Qur’an dengan hikmat. Aku terbawa arus hingga lupa waktu tinggal sedikit lagi.

“Waktu 2 menit lagi,” Qismu Amni berteriak keras memberitahu waktu tinggal sedikit lagi.

Aku terkejut mendengar waktu yang tinggal 2 menit. Segera aku masuk kamar dan mencari peci. Namun, karena tergesa-gesa dan panik, aku lupa menaruh peciku, biasanya terletak di atas lemari. Kali ini, peciku tidak ada di sana.

“59, 58, 57 …,” Qismu Amni sudah siap dipintu, menghitung mundur detik-detik penutupan pintu.
Aku semakin panik dan mencari-cari di atas tempat tidur. Ternyata, peciku berada di atas tempat tidur dan tertutup kain.

“44, 43, 42 …,” Qismu Amni terus menghitung layaknya angkatan militer.

Aku berlari sekuat tenaga, melangkahkan kaki sejauh mungkin agar tidak terkurung di asrama. Akhirnya, aku lolos, tetapi rasanya seperti dipermainkan semesta.

Aku baru sadar, sandalku dilarikan teman. Tidak etis rasanya pergi ke masjid tidak pakai sandal. Aku teringat masih punya sepasang sandal lagi di bawah tempat tidur. Aku masuk ke kamar lagi dan kuambil sandalnya.

Namun, malang nasibku, kali ini aku harus terkurung di dalam asrama. Tiga langkah dari pintu, Qismu Amni sudah mengunci pintu dengan rapat. Aku pasrah dan suka tidak suka harus menerima hukuman.

***

Setelah mereka pulang dari masjid, aku dipanggil menghadap pembina. Aku diberi hukuman piket selama seminggu dan jalan jongkok sepuluh kali mengelilingi asrama.

Imran tersenyum tipis sambil mengejek, “Masih aman, Jon? Aku sudah bilang tadi, tetapi kau ngeyel.  Jadi dapat hukuman, kan?”

Malam itu kaki dan pinggangku sakit karena harus berjalan jongkok. Belum lagi, aku harus piket satu minggu. Aku langsung terkapar di tempat tidur, melepas kejengkelan dan mengistirahatkan badan.

Penderitaanku belum berakhir di situ. Karena kelelahan dan pegal-pegal, aku telat bangun pagi. Ketika aku buka mata, asrama sudah kosong. Lalu aku mengecek pintu, ternyata aku terkurung lagi.

“Astagfirullah, dosa apa yang telah hamba lakukan sehingga semesta begitu senang mempermainkanku,” gumamku dalam hati.

Hukumanku bertambah-tambah. Aku harus jalan jongkok sepuluh kali keliling asrama dan piket ditambah seminggu lagi. Aku hanya bisa pasrah dan mengambil hikmah. Aku betekad untuk tidak akan terkurung lagi.

***

Idul Saputra (20 tahun) merupakan mahasiswa Jurusan Ekonomi Syariah IAIN Bukittinggi. Ia tinggal di Pasaman, Sumatra Barat. Penulis dapat ditemui lewat Facebook dengan nama: Idul Saputra atau Instagram dengan nama: @idoel Sapoetra23.